Entry: Muamalah Suami - Istri Friday, September 16, 2005





Bermu'amalah dengan Suami

Di bawah ini adalah sejumlah nasihat untuk para wanita secara umum dan para isteri secara khusus sebagai bahan pertimbangan dalam bermuamalah dengan suami dalam kehidupan sehari-hari di dalam rumah tangga, menghadapi masalah, ketidakcocokan, kekurang sregan, dan lain-lainnya.

·        Apakah suami memahami keinginanmu. Andai suamimu termasuk orang yang bisa memahami keinginanmu, maka usahakanlah mencari waktu yang munasib (sesuai) untuk memberitahu suami bahwa engkau ingin berbicara dengannya dan mengungkapkan permasalahanmu, misalnya pada malam hari selepas anak-anak tidur dan suasana kondusif. Dan hindarilah waktu-waktu dimana anak-anak masih ramai, sebab hal itu akan menyebabkan suamimu tidak perhatian dengan apa yang engkau sampaikan, sebab sebagian suami terkadang hambar dalam diskusi keluarga karena perhatiannya terganggu dengan hal lain, dan itu bukan karena maksud dia begitu, maka perhatikanlah. Adapun jika suamimu tidak pandai memahami keadaanmu bahkan terkadang malah semakin bertambah jauh, maka usahakanlah untuk langsung berbicara dengan suamimu dan mulailah dari dirimu dalam membicarakan masalah yang kamu hadapi. Maka jarang sekali suami yang akan terus diam bahkan dia akan meresponmu dengan baik. Jika suamimu demikian adanya, maka ia termasuk kelompok orang yang tidak memberi kecuali sampai engkau memberi kepadamu (berkepribadian covert).

·        Ketahuilah wahai para isteri, pada umumnya laki-laki akan mengalami masa-masa jenuh yang akan engkau ketahui dengan berlalunya waktu yang panjang dalam bermuamalah dengannya. Maka, usahakanlah agar ia selalu memperhatikanmu dan jangan berikan kesempatan sedikitpun kepada orang ketiga. Misalnya, seorang laki-laki lemah kepribadiannya karena satu sebab atau yang lainnya, maka usahakanlah agar tumbuh pada dirinya kepercayaan diri dan janganlah sampai ia menyibukkan diri dengan selainmu yang akhirnya suamimu akan cenderung kepadanya dan meninggalkanmu. Dan engkaulah yang paling bertanggung jawab atas ini.

·        Hak kepemimpinan dalam keluarga sebagaimana ketentuan Allah adalah bagi suami. Sebagaimana firman Allah yang berbunyi "Laki-laki adalah pemimpin perempuan". Betapa banyak para wanita yang mencela suaminya dan membentaknya serta memarahinya karena ia melihat perempuan lain pun melakukan hal itu kepada suaminya, dan suaminya pun mencela istrinya. Wanita yang demikian telah melampaui batas, menghilangkan hak suami sebagai kepala rumah tangga, dan mengambilnya sebagai jabatan dirinya. Dan ketika anak-anak melihat kejadian itu, hilanglah kehormatan seorang ayah di sisi mereka dan di sisi isterinya.

·        Waspadalah jangan sampai engkau ridha kepada suamimu untuk mendapatkan murka Allah, sebab siapa yang dimurkai Allah dan mendapat ridha manusia maka Allah akan murka kepadanya dan kepada manusia.

·        Berusahalah untuk mengetahui siapa yang dicintai dan dibenci suamimu. Caranya, datanglah kepada mertuamu dan menanyakannya, maka mertuamu akan memujimu dan bertambah sayangnya kepadamu. sebaliknya janganlah engkau memasukkan orang lain kedalam rumahmu orang yang tidak disukai suamimu. Rasulullah bersabda "Dan janganlah engkau masukkan orang yang dibenci suami ke dalam kamar tidurnya. Demikian juga segala sesuatu yang dicintai suamimu dan dibencinya maka dekatilah hal yang dicintai dan jauhilah hal yang dibencinya tersebut.

Program dan aktivitas harian dibawah ini bisa memandumu mencapai apa yang engkau inginkan:

·        Siapkanlah sarapan pagi suamimu setiap kali suamimu mau pergi kerja. Dan jangan sampai engkau tidur pagi sedangkan kawan-kawannya yang menyiapkan sarapan pagi suamimu bahkan terkadang ia membeli sarapan sendiri.

·        Ketika hampir dekat waktu pulang kerja, teleponlah suamimu/kirimkan sms kepada suamimu agar ia segera pulang.

·        Berilah makan anak-anakmu dan kemudian tidurkan sebelum kedatangan suamimu sebab ia datang dalam keadaan capek yang terkadang bisa terganggu dengan ramainya anak-anak. maka siapkan tempat yang nyaman untuknya agar tidak mempengaruhi jiwanya.

·        Berusahalah untuk menghilangkan capeknya suami selepas kerja, dan temanilah suamimu beberapa saat. Ringankanlah beban musibah yang ia alami dan gembirakanlah, serta kuatkanlah dirinya. Dan jadikanlah Khodijah sebagai Qudwahmu (idola), dimana setiap kali Rasulullah datang dalam keadaan gundah seraya bersabda selimuti aku-selimuti aku maka ia pun menenangkan beliau sembari berkata, "Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu, engkaulah yang selalu menyambungkan tali persaudaraan... dst"

·        Beri perhatianlah pada pakaianmu, dan dandananmu sesuai keinginan suamimu, dan berhiaslah sekuat kemampuanmu tanpa berlebihan. Dan aku sungguh heran terhadap dandanan para wanita ketika menghadiri pesta, ke pasar, pertemuan-pertemuan wanita, akan tetapi mereka tidak melakukan hal itu untuk suami mereka..

·        Bersihkan dan rapihkanlah penampilan anak-anakmu sebagus mungkin agar tidak terlihat kumal dan rendahnya perhatianmu kepada mereka. Demikian juga kebersihan rumahmu.

·        Lakukanlah selalu memberikan pengharum ruangan sehingga menjadikan suamimu kerasan dan betah di rumah. Dan janganlah sampai tercium bau-bau yang tidak sedap dan lain-lainya seperti bau dapur, sebab terkadang ia menjauh darimu karena bau-bau ini.

·        Janganlah engkau meminta sesuatu kepada suami disaat ia marah, bahkan usahakanlah agar kemarahannya itu reda, kalaupun tidak bisa carilah kesibukan di ruangan lain agar kemarahannya tidak berpindah kepadamu.

·        Manusia, sebagaimana tabiatnya, cenderung dan menyukai hal-hal baru, maka berusahalah untuk memperhatikan tempat-tempat yang sering digunakannya seperti kamar tidur, maka rubahlah tata ruang kamar tidurnya secara priode setiap tiga atau empat bulan sekali.

 

Terakhir aku berdo`a kepada Allah semoga Allah ta'alaa, melimpahkan anugerah mawadah wa rohmah kepada seluruh rumah-tangga kaum muslimin.

Allah ta'alaa berfirman:
"Allah menjadikan diantar kalian mawaddah wa rahmah".





Bermuamalah Dengan Isteri

Interaksi yang bagus antara suami dengan isteri demikian juga sebaliknya merupakan hubungan yang terpenting antar manusia. Oleh karena itu, kita harus selau mengedepankan toleransi, mawaddah, menerima kekurangan, dan saling mencintai, sebab keserasian dan kekekalan rumah tangga adalah pokok dan dasar dalam membangun sistem masyarakat Islam yang kuat dan komitmen, bi idznillah. Dan banyaknya permasalahan yang dialami sekian banyak keluarga, sebabnya adalah mereka jauh dari dzikir kepada Allah.

Allah berfirman:
Dan barangsiapa yang berpaling lagi membangkang dari dzkikir kepada-Ku maka kami berikan kepadanya kehidupan yang sempit (Q.S. Thaha: 124)

Andai setiap kita mengetahui apa yang menjadi haknya dan apa yang menjadi tanggung jawabnya ketika terjadinya berbagai masalah hingga menyebabkan perselisihan dan penerlantaran anak, banyak dari para suami --semoga Allah memberikan hidayah-Nya kepada mereka- karena mereka kurang mengetahui apa yang menjadi tanggung jawab mereka dalam bermuamalah dengan isteri. Dan ini tidak selalu berarti mereka tidak tahu, akantetapi juga terkadang tidak tahu tentang "tabiat perempuan" dan bagaimana bersinergi dengan isteri. Sebab, setiap perempuan berbeda dengan orang lain, baik dalam tabiat maupun hal-hal yang membutuhkan kefahaman dari pihak suami. Maka seorang suami yang menyenangkan adalah orang yang selalu berbesar jantung (baca: berbesar hati), setiap perempuan suka dengan yang demikian.

Maka ketika sang suami demikian mencintai isterinya, menghormatinya, menghargai kesungguhannya walaupun ia tidak bisa memberikan seluruh kebutuhan materi sang isteri, tentu sang isteri akan menberikan seluruh kecintaan dan ketulusannya untuk sang suami. Dan ini adalah hak perempuan yang harus dipenuhi dari suami.

Allah berfirman:
Dan para isteri memiliki hak yangseimbang dengan kewajibannya secara ma'ruf dan suami satu derajat lebih tinggi daripada isteri ... (Q.S. Al-Baqarah: 228)

Ini adalah keadilan yang datang dari Allah ta'alaa, sebab berhubungan harus dengan cara yang ma'ruf sebagaimana seorang suami memiliki hak-hak, maka seorang isteri pun memiliki hak-hak yangharus ditunaikan sang suami.

Maka, apabila seorang suami ingin memberikan hak isterinya sebagaimana yang Allah tetapkan, maka perhatikanlah hal-hal di bawah ini:
Ketka melihat isterinya berbuat salah dalam masalah dunia atau keteledoran dalam agama, maka sang suami tidak boleh diam, bahkan ia harus menerangkan kepadanya apa yang menjadi kewajiban isterinya kepada Allah, maka ikutilah perintah Allah dan Rasul-Nya dan tinggalkanlah larangan-Nya. Akan tetapi, semua ini dengan cara yang bajik lagi santun, dengan penuh kecintaan dan kelembutan serta sabar. Rasulullah bersabda:

”Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya”; maka seorang suami menjadi pemimpin bagi keluarga dan rumahnya, dan akan dimintai pertnaggungjawaban atas kepemimpinannya itu

Engkau (suami) hendaklah senantiasa memotivasi isterimu untuk selalu berbuat baik sehingga ia menyibukkan dengan hal itu dan meninggalkan kecintaan kepada perkara-perkara dhahir (penampilan, pakaian, dll) sebab amal baik mendatangkan keridhaan Allah.

Mayoritas masalah penyebab terjadinya masalah antara suami dengan isteri adalah harta. Seolah sang isteri mengatakan, "Aku ingin ini, itu, ...dst". Dan seolah sang suami berkata, "Aku tidak punya cukup uang untuk memenuhi keinginanmu..."

Dan engkau wahai sang suami yang mulia, andai benar engkau tidakmemiliki harta yang cukup untuk memenuhi apa yang diinginkan isterimu, maka hendaklah engkau menyampaikan hal itu kepadanya dengan cara yang simpatik, sebab wanita memiliki tabiat lembut, rahmah, qanaah. Dan ucapan yang santun memiliki dampak yang sangat bagus dalam memperbaiki rumah tangga. Jika engkau demikian, tentu sang isteri akan menghormati dan memahami keadaanmu, insya Allah.

Dan andai engkau memiliki harta tetapi engkau memang bakhil (pelit) kepada isterimu, maka ketahuilah bahwa hal itu tidak boleh. Bahkan engkau harus memberi nafkah kepadanya dan kepada anak-anakmu dengan ma'ruf, dan tidak setiap yang diminta oleh keluargamu harus engkau tanggapi akan tetapi berhematlah dalam segala hal.

Allah berfirman:
Dan janganlah engkau terlalu bakhil dan jangan pula terlalu pemurah sehingga engkau menjadi menyesal lagi terhina (Q.S. Al-Israa': 29)

Sifat bakhil akanmenyebabkan sang isteri lari atau menjauh dari suaminya walaupun sebelumnya ia mencintai suaminya itu. Oleh karena itu, sifat pemurah adalah sifat yang dicintai oleh bukan hanya oleh isterimu bahkan oleh semua orang.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments